Balon Internet Google Loon dengan Berbagai Uji Coba di Indonesia

0
216
Balon Internet Google Loon dengan Berbagai Uji Coba di Indonesia
Ilustrasi balon internet Google Loon. Foto: qz.com

Texno.ID – Balon internet Google Loon adalah sebuah proyek Google yang membawa jaringan internet dengan benda balon udara. Balon tersebut akan bekerja seperti BTS udara atau satelit.

Dikenal dengan nama Google Loon dan bisa bertahan pada lapisan stratosfer hingga 100 hari yang telah menggunakan tenaga surya.

Google mempunyai inisiatif untuk menyebarkan sebuah internet pada lokasi yang belum ada jaringan internet. Pada 2013 lalu, gagasan ini mulai terwujud dan kemudian sekarang terlahir Project Loon.

Balon Internet Google Loon Akan Mengudara

Balon ini tidak akan mengganggu lalu lintas di udara, karena bisa terbang sangat jauh dan berada di atas ketinggian pesawat. Terbang menuju lapisan stratosfer dengan jarak sekitar 2 kali pada ketinggian pesawat.

Namun, ketinggian juga masih sangat jauh dengan jalur orbit satelit. Kemudian balon Google akan terhubung dengan ISP (internet service provider) di darat melalui sebuah spektrum frekuensi radio. Dengan frekuensi inilah akan menjadikan batu sandungan untuk Google Loon.

Sinyal yang akan tersalur lewat frekuensi radio juga berlanjut pada balon internet Google Loon lain yang bersama-sama terbang keatas langit dengan jangkauan tertentu. Kemudian sambungan internet akan dipancarkan ke setiap balon di permukaan bumi.

Baca:  Google Nearby Share, Fitur Terbaru yang Memudahkan Berbagi File

Dengan nirkabel dan dapat tertangkap menggunakan sebuah perangkat khusus untuk menerima. Google mengklaim balon tersebut dapat memberikan koneksi internet pada area diameter 40 km.

Memiliki kecepatan transfer data yang setara dengan 3G. Namun pada saat itu belum semasif 4G dan 5G. Pada masalah geografis, kadang sering menyulitkan adanya pembangunan infrastruktur internet. Seperti pegunungan, hutan, dan pulau-pulau yang sulit tertembus.

Kondisi tersebut sering ditemukan di Indonesia. Sehingga Indonesia sebagai wilayah yang sering disebut sebagai daerah 3T (terluar, terdepan, tertinggal). Maka dari itu, Google telah menjadikan wilayah udara di Indonesia sebagai sebuah target.

Uji Terbang di Indonesia

Balon internet Google Loon pernah terbang pada pertengahan tahun 2014 dengan menggunakan aplikasi Flightradar. Balon itu terbang ke arah selatan Pulau Sumatera di area Bandar Lampung dan bergerak ke Timur.

Pada Maret 2015 balon tersebut juga kembali terdeteksi terbang di Indonesia lagi. Balon helium yang memiliki kode HBAL436 ini terlihat melewati laut Jawa dengan tinggi 20.400 meter serta bergerak pada kecepatan sekitar 36 knot.

Baca:  Mesin Pencari Internet yang Paling Populer dan Banyak Digunakan

Setelah beberapa bulan, Menkominfo (Menteri Komunikasi dan Informatika) Rudiantara periode 2014-2019 telah memastikan bahwa balon akan kembali hadir di Indonesia lagi. Tetapi kehadiran ini hanya sebatas uji coba saja.

Balon internet Google Loon juga tidak dapat terbang begitu saja. Namun harus mengikuti sebuah ketentuan yang berlaku, yakni operator seluler.

Rudiantara mengatakan pernah bertemu dengan pihak Google yang terkait pada balon tersebut. Kemudian Google tersebut meminta sebuah izin supaya menggunakan frekuensi 700 Mhz dan 900 Mhz, tapi sayangnya tidak berjalan.

Pasalnya, pada frekuensi 700 Mhz masih ada pada televisi analog. Sementara frekuensi 900 Mhz masih digunakan oleh tiga operator seluler. Maka dari itu, balon internet Google Loon harus masuk melalui sebuah existing player dengan operator seluler dan bukan menggunakan alokasi spektrum.

Hasilnya, uji coba Google Loon ini telah sepakat dengan menggunakan tiga operator seluler Indonesia. Ketiga operator tersebut yaitu XL Axiata, Telkomsel, dan juga Indosat. Menggunakan jaringan 4G Lite dengan frekuensi 900 Mhz.

Baca:  Cara Mengatasi Limit Google Drive Dengan Memakai Akun Google

Berbeda Sikap pada OpenBTS dan Google Loon

Untuk memperluas sebuah jaringan internet menuju wilayah 3T di Indonesia, tidak hanya dari Google Loon saja. Namun OpenBTS kurang mendapatkan dukungan dari pemerintah.

OpenBTS adalah ukuran yang mini dari BTS Reguler. Pada perangkat keras yang ada seperti USRP (universal software radio peripheral) guna melancarkan adanya sinyal jaringan internet dengan seluler GSM.

Penggunaan Google Loon Muncul Kembali

Meskipun sempat terbentur regulasi, namun Google Loon tetap akan menyebarkan internet pada wilayah 3T kembali. Penggunaan sebuah teknologi Google Loon untuk mengakses internet akan ada dalam atmosfer, sehingga dapat dengan mudah untuk menjangkau wilayah yang lebih luas.

Dengan menggunakan balon internet Google Loon yang satu ini, pemerintah akan terus melakukan pembicaraan pada sejumlah pihak yang terkait, termasuk pada operator seluler. (CW001)

Editor : Deni Supendi