Cara Kerja Virtual Police di Medsos untuk Mendeteksi Konten Negatif

0
175
Cara Kerja Virtual Police di Medsos untuk Mendeteksi Konten Negatif
Ilustrasi Cara kerja virtual police. Foto. telegraf

Texno.ID – Cara kerja Virtual Police telah terungkap oleh Kadiv Humas Polri Irjen, Argo Yuwono. Sebagai rangka dalam pemeliharaan Kamtibmas untuk ruang digital supaya lebih sehat, bersih, dan produktif.

Virtual Police menurut Argo adalah suatu kegiatan kepolisian supaya bisa memberikan edukasi pada masyarakat. Selain itu, yang terkait tentang konten tidak benar.

Ketahui Cara Kerja Virtual Police di Medsos

Argo menjelaskan terkait cara kerja dari Virtual Police tersebut. Peringatan kepada pengguna akun yang melanggar hukum, dengan melalui kajian yang mendalam bersama para ahlinya.

Ketika unggahan mengandung pelanggaran, maka kemudian petugas akan menangkap layar (screenshot) dari unggahan tersebut. Tentu akan segera dikonsultasi oleh tim dari ahli bahasa, pidana, dan ITE.

Melalui DM (Direct Message)

Peringatan tersebut dikirim melalui DM. Dengan tujuan supaya pihak kepolisian tidak ingin para pengguna media sosial akan merasa terhina karena adanya peringatan dari kepolisian.

Sementara itu, Argo juga menepis kekhawatiran dari beberapa pihak dengan cara kerja Virtual Police tersebut. Kemungkinan juga yang akan mempersempit dari kebebasan masyarakat di ruang digitalnya. Sebelumnya Listyo Sigit sebagai Kapolri Jenderal juga memerintahkan adanya pembentukan Virtual Police.

Resmi Dijalankan

Pihak kepolisian kini sudah resmi menjalankan kegiatan Virtual Police pada 25 Februari 2021. Hal ini adalah salah satu arahan dari bapak presiden Joko Widodo mengenai pasal-pasal yang terdapat di dalam UU ITE.

Slamet Uliandi sebagai Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Pol, sampai saat ini dari pihak kepolisian telah melakukan 12 kali peringatan. Menurut Slamet, langkah tersebut merupakan salah satu bagian dari cara kerja Virtual Police yang menangani kasus pelanggaran.

Tindakan ini juga dilakukan untuk bisa menindaklanjuti SE (Surat Edaran) dari Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit dengan nomor SE/2/11/2021. Mengenai kesadaran budaya beretika guna mewujudkan ruang digital di Indonesia yang sehat, bersih, dan produktif.

Pengertian Virtual Police

Menurut Raden Prabowo Argo Yuwono sebagai Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol. Virtual Police merupakan upaya dari Korps Bhayangkara untuk memberikan sebuah edukasi kepada seluruh pengguna media sosial supaya tidak menyebarkan konten yang negatif.

Argo juga mengatakan bahwa cara kerja Virtual Police akan mereka ciptakan sebagai penjagaan Kamtibmas di ruang digital saat ini. Hal ini termasuk ke dalam 16 program dari prioritas Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit dengan nomor lima, yakni sebagai pemantapan kinerja dan pemeliharaan Kamtibmas.

Aturan dan Cara Kerja

Kemudian Argo menjelaskan mengenai cara kerja Virtual Police. Memberikan peringatan kepada pemilik akun yang mengunggah konten terlarang.

Apabila konten tersebut mengandung hal yang negatif, maka petugas akan segera menyimpan unggahannya. Kemudian melakukan tindakan yang lain.

Pelanggaran Konten

Apabila ahli mengatakan bahwa konten tersebut termasuk pelanggaran, entah itu penghinaan maupun yang lainnya. Selanjutnya Virtual Police Alert akan dikirim pribadi secara resmi ke akun yang bersangkutan. Bahkan pihak polisi juga akan merahasiakan hal tersebut.

Penerapan di Negara Lain

Dalam sebuah artikel Polisi Virtual oleh Ahmad Zaenudin menuliskan, jika melihat cara kerja Virtual Police di negara yang lain, maka hal tersebut akan menjadi pengekang oleh kemerdekaan rakyat.

Karena banyak kasus terkait Virtual Police yang menjadi penentu. Setidaknya harus ada dua jenis sensor, yaitu sensor keras (hard censorship) dan sensor halus (soft censorship).

Soft Censorship

Justru yang paling menakutkan adalah sensor halus. Karena cara kerjanya berupa pengecekan konten yang ada di media sosial. Kasus dari sensor halus ini juga pernah terjadi di China karena mengandung kalimat yang tidak baik.

Itulah beberapa pemahaman mengenai cara kerja Virtual Police. Dengan begitu, maka pihak polisi akan melakukan tindakan kepada para pengguna media sosial yang membuat unggahan tidak baik.

Virtual Police ini sangat membantu pihak kepolisian. Tak hanya itu, adanya sistem ini bisa menjadi pedoman bagi masyarakat agar lebih hati-hati dalam menyebar informasi. Jangan sampai menjadi kerugian tersendiri karena ketidaksengajaan ataupun ketidaktahuan semata.

Cara kerja Virtual Police yang canggih dan sistematis perlu mendapat dukungan dan apresiasi. Hal ini tak lain demi ketertiban dan kedamaian bersama.